Join MultiplyOpen a Free ShopSign InHelp
MultiplyLogo
SEARCH
Blog EntryOct 2, '08 10:01 AM
for everyone
Kenapa harus dengan ikhwan? Lelaki biasa saja sudah cukup! Kata seorang saudariku, setelah kami melalui sesi dialog yang cukup panjang.

Aku terdiam. Sungguh, sulit untuk menolak semua kata-katanya.

Kali ini kami berdiskusi tentang munakahat atau pernikahan. Jujur, dalam usia menjelang 20 tahun, entah mengapa topik ini sering sekali muncul. Mungkin karena banyak teman-teman seangkatan yang telah lebih dulu menggenapkan separuh dien. Atau sebab-sebab yang lain.
Entahlah.

Dialog ini sebenarnya bukan tentang pernikahan. Awalnya kami hanya membahas dinamika dakwah kampus yang memang cenderung centang prenang, lalu berlanjut ke masalah ghirah dakwah yang cenderung menyurut,hingga ke ikhwan dan akhwat dengan ghirah keislaman yang tetap tinggi di tengah badai, lalu dan lalu, ketika dan ketika...

"Tapi ikhwan pun, juga manusia." celutuk saudariku ini.
"Hmm?"
"Iya, bahkan lebih dari manusia."
Aku terdiam, menebak-nebak arah pembicaraan saudariku satu ini. Sepertinya ia pingin ngomongin tentang makhluk langka yang bicaranya suka nunduk-nunduk, berjenggot, dan selalu kelihatan jenggotnya di acara-acara dakwah alias ikhwan, nih. hmm...

Selanjutnya, ia mulai bercerita tentang pengalamannya dan situasi yang telah ia lihat di lembaga dakwah kampusnya di salah satu PTN yang paling ngetop di Indonesia. Tentang kecenderungan ikhwan-ikhwan yang masuk golongan garis keras, untuk selanjutnya menikah hanya dengan akhwat-akhwat yang the best.

"The best disini semuanya. Cantik, sholehah, pinter. Bahkan kadang fisik mendapat prioritas utama di atas semuanya."
Tapi, bisik hatiku. Bukankah Rasulullah sendiri telah...?

"Memang," jawabnya cepat. Seolah bisa membaca pikiranku."Rasulullah mengisyaratkan kecenderungan laki-laki adalah pada 4 hal itu. Tapi, bukankah poin terakhir yang paling digaris bawahi oleh Rasulullah, yaitu agamanya?"

Lebih lanjut, ia mengatakan dengan nada keras. Bahwa para ikhwan itu, yang notebene pengetahuan agamanya (harusnya) lebih baik dari para 'laki-laki biasa' malah memilih calon istrinya berdasarkan kiteria fisik yang utama. Seolah-olah, diantara banyak akhwat yang tersedia, ikhwan itu menderetkannya dari yang tercantik hingga yang tidak, lalu memilih yang tercantik. bukan berdasarkan tingkat keshalehan dan ghirah keislamannya.

"Seolah-olah semua akhwat itu sama tingkatannya. Yang membuatnya lebih unggul hanya kecantikannya. Bahkan banyak akhwat yang hatinya terlanjur patah duluan saat mencintai seorang ikhwan, karena sadar bahwa ia tidaklah secantik bidadari."

Aku merenung saat mendengarnya. Memang banyak sekali sebelum ini, kudengar kisah tentang para akhwat-akhwat dengan semangat jihad yang tinggi, lalu menua dalam penantiannya menunggu jodoh karena fisiknya sedang-sedang saja. Sedangkan akhwat yang biasa-biasa saja dari segi pemahaman keislaman, semangat jihad, dsb, namun memiliki fisik ala putri salju, lebih mudah mendapatkan jodoh!

Masya Allah...

Aku mencoba berhusnudzon terhadap ikhwan-ikhwan itu.
"Mungkin," kataku saat itu."Bukan maksud mereka mendewakan fisik di atas segalanya. Hanya sebuah kewajaran, jika seorang laki-laki (siapa saja) mendambakan istri cantik penyejuk mata. Apalagi seorang ikhwan, yang dengan aktivitas dakwahnya yang berat mendambakan seorang bidadari saat pulang ke rumahnya."

Saudariku ini terdiam. Tapi lantas ia meneruskan dengan sebuah kisah, tentang seorang cowok playboy yang keren, kaya, pintar dan terlihat memiliki segalanya dari dunia.

"Pada akhirnya, ia memilih menikahi seorang perempuan yang shalehah, yang sangat sederhana dan berwajah "biasa saja". Ia ingin seorang yang bisa membimbingnya lebih dekat dengan Allah, dan mendambakan sebuah rumah tangga yang dihiasi keikhlasan dan pembelajaran. Ia ingin istri yang bisa mendampinginya untuk belajar bersama tentang hidup dan kemuliaan."

Lagi-lagi aku terdiam. Ingatanku melayang pada sebuah buku yang pernah kubaca (afwan, lupa judulnya). Dalam salah satu paragraf, disinggung mengenai keberadaan akhwat-akhwat sepuh, yaitu para aktivis dakwah yang Allah belum memperkenankan jodoh untuk mereka hingga di usia senja. kesabaran mereka, husnudzan mereka terhadap para ikhwan...

"Seharusnya, para ikhwan bisa lebih dari para laki-laki biasa itu." Ucap saudariku memutus lamunanku.

Yah, tapi bukankah ikhwan juga laki-laki biasa?
Mereka dapat khilaf, dapat sombong, dapat tersilaukan dengan dunia
Mereka bukan malaikat...

Dan pada akhirnya, sebuah kesimpulan. Seperti yang telah diucapkan saudariku yang cantik di awal kisah ini.

Ah, aku merasa tidak pantas menjudge ikhwan-ikhwan itu.
Sungguh! Aku sadar mereka juga manusia. Penuh khilaf.
Dan lebih tidak pantas lagi untuk bersuudzahan pada mereka
Mungkin mereka bukan menikah karena kecantikan, tapi Allah lah yang berkenan memberikan bidadari di dunia karena keikhlasan mereka dalam dakwah

Mungkin...
Mungkin...
Terlalu banyak mungkin...

"Ya Allah, jauhkanlah kami dari prasangka terhadap saudara kami..."

31 CommentsChronological   Reverse   Threaded
sintanggoro wrote on Oct 2, '08, edited on Oct 2, '08
boleh ngikut ngerumpi ya...
mungkin saat kita berada di tingkat yang tidak biasa kita berharap yang tidak biasa juga...
yah sama kaya kita aja, bukankah juah di lubuk hati kita ketika kita udah berusaha sebisa mungkin menjadi sesempurna mungkin kita juga berharap seseorang yang sempurna?(atau itu cm saya dan beberapa orang lain ya?) ini sama kaya hukum ekonomi dimana saat pendapatan kita tinggi pengeluaran akan cenderung tinggi juga
artinya kita berharap banyak ketika kita berada di posisi yang KITA PIKIR TINGGI padahal apa yang menurut kita baik kan g mesti bener2 baik.
yang aku jadi takut adalah GELAR ikhwan dan akhwat itu cuma biar dapet jodoh yang juga ga kalah kerennya...
sedihnya lagi, abis dapet biadadari surga (sesuai hukum gossen ttg marginal utility)
beberapa tahun kemudian akan bosen dan sesuai hukum alam saat si bidadari makin tua, mulai lupa d, mulai galak de...(jangan sampe y)
jahat ya!(loh kok saya malah nulis blog yang isinya curhatan di sini...)
numpang curhat d ya mba
adee04 wrote on Oct 3, '08
mungkin saat kita berada di tingkat yang tidak biasa kita berharap yang tidak biasa juga...
yah sama kaya kita aja, bukankah juah di lubuk hati kita ketika kita udah berusaha sebisa mungkin menjadi sesempurna mungkin kita juga berharap seseorang yang sempurna?(atau itu cm saya dan beberapa orang lain ya?) ini sama kaya hukum ekonomi dimana saat pendapatan kita tinggi pengeluaran akan cenderung tinggi juga
artinya kita berharap banyak ketika kita berada di posisi yang KITA PIKIR TINGGI padahal apa yang menurut kita baik kan g mesti bener2 baik.
yang aku jadi takut adalah GELAR ikhwan dan akhwat itu cuma biar dapet jodoh yang juga ga kalah kerennya...
iya ya mbak, kalo merasa diri udah sempurna, tentu ada harapan mendapat kompensasi yang setimpal untuk kesempurnaan itu:)

hanya saja, saat manusia yang digelari ikhwan dan akhwat itu (ikhwan terutama) mulai berpikir secara 'biasa' bahkan terlalu biasa: soal fisik, maka orang pasti protes
"ih, katanya harus ikhlas. katanya yang penting taqwa!"
emang sih omongan orang gak penting,
hanya saja mungkin kita harus jujur melihat ke dalam hati kita juga ya mbak
sejauh mana udah keikhlasan kita
agar jangan sampai gelar ikhwan dan akhwat itu jadi cap untuk dapat jodoh yang keren aja, kayak mbak bilang.
Na'udzubillah kalo kayak gitu...

gak apa mbak, kalo mau curhat
ini kan rumpi khusus cewek, jadinya aman deh;)
lunaticanna wrote on Oct 3, '08
Numpang nimbrung, ^_^
Setiap manusia tak dapat dinilai dari 'gelar' apapun yang mereka sandang. Ikhwan dan akhwat sama-sama hamba Allah. Kenapa seperti ada perbedaan yang tinggi sekali setiap membicarakan mereka dengan yang non ikhwan-akhwat?
sintanggoro wrote on Oct 3, '08
Kenapa seperti ada perbedaan yang tinggi sekali setiap membicarakan mereka dengan yang non ikhwan-akhwat?
gatau kenapa karena gelar2 itu datang dengan sendirinya, dan entah kenapa setiap orang membuat perbedaan itu karena memang mereka berbeda seperti halnya semua orang di dunia ini yang masing2 punya perbedaan juga.
Perbedaan yang tinggi di buat oleh kita karena ikhwan dan akhwat NOTABENENYA adalah orang2 yang berusaha menjadi lebih baik dengan terus belajar dengan dasar agama...
mungkin itu yang membuat mereka berbeda
adee04 wrote on Oct 3, '08
Kenapa seperti ada perbedaan yang tinggi sekali setiap membicarakan mereka dengan yang non ikhwan-akhwat?
jujur, gak ngerti juga
hanya mungkin seperti yang mbak sinta bilang
gelar itu diberikan pada orang2 yang dianggap lebih tahu tentang islam
dan terus belajar
pemahaman diharapkan menimbulkan perilaku yang lebih 'beda' dibandingkan yang non ikhwan akhwat
meski kadang2 saya bingung juga sih ngebedainnya.
soalnya anak-anak metal banyak juga yang paham islam ya?
hanya aplikasinya gak ada:(
8onetwo wrote on Oct 3, '08
adee04 said
"Pada akhirnya, ia memilih menikahi seorang perempuan yang shalehah, yang sangat sederhana dan berwajah "biasa saja". Ia ingin seorang yang bisa membimbingnya lebih dekat dengan Allah, dan mendambakan sebuah rumah tangga yang dihiasi keikhlasan dan pembelajaran. Ia ingin istri yang bisa mendampinginya untuk belajar bersama tentang hidup dan kemuliaan."
Subhanallah, jadi terbalik gitu ya mbak. Yang ikhwan menikah dengan wanita biasa yang cantik. Yang akhwat menikah dengan lelaki yang agamanya biasa aja =O
TFS.
sintanggoro wrote on Oct 3, '08
iya juga ya mba suka penasaran sama orang-orang yang juga bahkan lebih rajin ngaji dan jalalanin agama...
tapi karena penampilan mereka ga di sebut ikhwan
mungkin yang membedakan mang aplikasnya aja
kaya STMJ (solat terus maksiat jalan)...
adee04 wrote on Oct 4, '08
8onetwo said
Yang akhwat menikah dengan lelaki yang agamanya biasa aja
iya, hanya sekarang terkadang konteksnya beda
akhwat takut untuk menikah dengan lelaki 'biasa'
takut imannya luntur dan berkurang
padahal bisa jadi ladang dakwah juga ya?
seperti kisahnya ummu sulaim dan abu thalhah
dianpramesti wrote on Oct 5, '08
kalau menurutku, perilaku ikhwan2 yang seperti itu (kalau memang ya) adalah sah-sah saja, mau pilih yang cantik atau yang ningrat atau yang kaya atau yang shalihah, pilihan mereka sah-sah saja..

seperti halnya salah satu komentar di post sebelumnya bhw sebaik-baik usia adalah yg panjang dan byk amalannya, tapi masa iya selalu bisa kondisinya seperti itu?

namanya juga sebaik-baiknya, hal yang bukan sebaik-baiknya kan belum tentu buruk atau tidak baik kan..

hm, menurutku..
seorang cewe (di sini pakai kata cewe bukan akhwat) yang mencintai seorang cowo (lagi-lagi aku ga pakai kata ikhwan) karena Allah, dia tidak akan pernah patah hati ketika cintanya tak berbalas..

dan meskipun salah seorang sahabatku pernah bilang bahwa seseorang bisa berjodoh dg lebih dari satu orang, aku percaya bhw setiap muslim semestinya tenang ketika menghadapi masalah seperti ini, seperti mereka semestinya tenang hatinya karena tahu bhw rizki yang sudah ditetapkan buat mereka ga akan diambil orang lain, huehehe..

wallahu a'lam.
adee04 wrote on Oct 6, '08
hm, menurutku..
seorang cewe (di sini pakai kata cewe bukan akhwat) yang mencintai seorang cowo (lagi-lagi aku ga pakai kata ikhwan) karena Allah, dia tidak akan pernah patah hati ketika cintanya tak berbalas..
tapi sedih pastinya ada
gak patah hati ketika sang pujaan hati menikah, pastilah ciri bidadari pilihan;)
suararaa wrote on Oct 6, '08
kalau menurutku, perilaku ikhwan2 yang seperti itu (kalau memang ya) adalah sah-sah saja, mau pilih yang cantik atau yang ningrat atau yang kaya atau yang shalihah, pilihan mereka sah-sah saja..
ya.. sah-sah ajalah.... hak mereka kan mau nikah sama siapa.. ya kan?

buatku yg baru menginjak 19, topik ini memang sering selentingan, tapi aku nggak pernah terlalu membicarakan atau mendiskusikan topik ini.
adee04 wrote on Oct 7, '08
buatku yg baru menginjak 19, topik ini memang sering selentingan, tapi aku nggak pernah terlalu membicarakan atau mendiskusikan topik ini.
sebenarnya sih,saya juga gitu
tapi kadang entah kenapa, topik ini sering sekali 'nyangkut' dalam tiap diskusi bebas
udah pada pingin memasuki hidup baru kali ya:)
suararaa wrote on Oct 7, '08
adee04 said
sebenarnya sih,saya juga gitu
tapi kadang entah kenapa, topik ini sering sekali 'nyangkut' dalam tiap diskusi bebas
udah pada pingin memasuki hidup baru kali ya:)
hihiihihi iya.... temen2 kadang emang suka gitu.. ya gak papa...
namanya juga yang dilihat dari pernikahan itu mungkin baru yang enak-enaknya.. he. he.. :-)
didoakan aja mbak temen mbak yg pengen memasuki hidup baru biar cepet nemu jodohnya. hehehe
yudimuslim wrote on Oct 7, '08
Aku merenung saat mendengarnya. Memang banyak sekali sebelum ini, kudengar kisah tentang para akhwat-akhwat dengan semangat jihad yang tinggi, lalu menua dalam penantiannya menunggu jodoh karena fisiknya sedang-sedang saja. Sedangkan akhwat yang biasa-biasa saja dari segi pemahaman keislaman, semangat jihad, dsb, namun memiliki fisik ala putri salju, lebih mudah mendapatkan jodoh!
============================================================
abang setuju dek...
mungkin kita memang sudah ada jodohnya..tidak sekarang tapi diakhirat..tapi apa ada jaminan di akhirat ntar kita masuk syurga dengan segera..hmmm ini selalu membuat abang berpikir...
yudimuslim wrote on Oct 7, '08
sedihnya lagi, abis dapet biadadari surga (sesuai hukum gossen ttg marginal utility)
beberapa tahun kemudian akan bosen dan sesuai hukum alam saat si bidadari makin tua, mulai lupa d, mulai galak de...(jangan sampe y)
jahat ya!(loh kok saya malah nulis blog yang isinya curhatan di sini...)
numpang curhat d ya mba
hehehe bener banget..yudi pernah baca hukum itu.:D
yudimuslim wrote on Oct 7, '08
yaaa menurut daku ya Piya..
semuanya mendapatkan kesempatan yang sama..
dan yang membedakan kita adalah taqwa dan kemampuan istiqamah..
tinggal bagaimana dia sebenarnya menepatkan diri dalam medan dakwah..
kadang2 kita lupa siapa sebenarnya medan dakwah kita..:)
dianpramesti wrote on Oct 7, '08
@ ade:
sejujurnya, saat ini aku sedang mengagumi dan mencintai seorang pria..
dan saat ini juga sedang belajar supaya ga patah hati, karena sepertinya dia sudah punya calon istri yang bukan diriku.. :D
adee04 wrote on Oct 7, '08, edited on Oct 7, '08
@dianprasweti:
sejujurnya, saat ini aku sedang mengagumi dan mencintai seorang pria..
dan saat ini juga sedang belajar supaya ga patah hati, karena sepertinya dia sudah punya calon istri yang bukan diriku.. :D

moga Allah menguatkan mbak ya
mungkin kalimat ini sedikit basi, tapi Allah memberikan yang terbaik menurutNya
yang paling kita butuhkan
bukan yang kita inginkan
wah, daku jadi ingat pengalaman pribadi nih:)
sakit, mungkin agak perih juga
tapi gak apa, semakin menempa diri untuk jadi kuat:')
adee04 wrote on Oct 7, '08, edited on Oct 7, '08
yaaa menurut daku ya Piya..
semuanya mendapatkan kesempatan yang sama..
dan yang membedakan kita adalah taqwa dan kemampuan istiqamah..
tinggal bagaimana dia sebenarnya menepatkan diri dalam medan dakwah..
kadang2 kita lupa siapa sebenarnya medan dakwah kita..:)
bang yudi, yang pertama, ini sebernarnya topik terlarang buat ikhwan!
eh, abng gak kesinggung kan baca tulisan ini?
maksudnya bukan menghakimi, hanya ingin berbagi

mengenai komentar abg, bingung
"dia" yang abng maksud disini akhwat atau ikhwan?atau dua2nya?
soalnya yang tulis komentar di atas kan ikhwan nih:)
adee04 wrote on Oct 7, '08
didoakan aja mbak temen mbak yg pengen memasuki hidup baru biar cepet nemu jodohnya. hehehe
Amiin...
biar gak ngeliat pernikahan sekedar indah2nya aja ya?
yudimuslim wrote on Oct 8, '08
adee04 said
bang yudi, yang pertama, ini sebernarnya topik terlarang buat ikhwan!
eh, abng gak kesinggung kan baca tulisan ini?
maksudnya bukan menghakimi, hanya ingin berbagi

mengenai komentar abg, bingung
"dia" yang abng maksud disini akhwat atau ikhwan?atau dua2nya?
soalnya yang tulis komentar di atas kan ikhwan nih:)
abang nggak ngerasa tersinggung sama sekali kok..karena abang mengartikan ikhwan itu sebagai pria ..
ya pria pada umumnya..soalnya dalam alquran allah mengatakan yang ngebedain itu adalah taqwa bukan dia ikhwan atau akhwat..:)
nabi juga sepertinya tidak pernah menggunakanya istilah untuk mereka yang alim dengan ikhwan dan akhwat...

dia disitu ya ikhwan..:)
adee04 wrote on Oct 8, '08
abang nggak ngerasa tersinggung sama sekali kok..karena abang mengartikan ikhwan itu sebagai pria ..
ya pria pada umumnya..soalnya dalam alquran allah mengatakan yang ngebedain itu adalah taqwa bukan dia ikhwan atau akhwat..:)
nabi juga sepertinya tidak pernah menggunakanya istilah untuk mereka yang alim dengan ikhwan dan akhwat...

dia disitu ya ikhwan..:)
iyaa.maksud piya,jika sebagai pria
abang tersinggung saat baca tulisan yang mngkn menyudutkan
peumeuah beuh

hmmm....abg pernah baca buku salim a fillah yang judulnya
"Saksikan bahwa aku seorang muslim" gak?
atau "agar bidadari cemburu padamu"? (maaf, lagi2 iklan)
disitu ada bab yang membahas masalah ini
gak sama persis, tapi mirip
mungkin bisa dibaca kalau ada waktu
sekedar sebagai bahan perenungan...
dianpramesti wrote on Oct 9, '08
adee04 said
moga Allah menguatkan mbak ya
mungkin kalimat ini sedikit basi, tapi Allah memberikan yang terbaik menurutNya
yang paling kita butuhkan
bukan yang kita inginkan
wah, daku jadi ingat pengalaman pribadi nih:)
sakit, mungkin agak perih juga
tapi gak apa, semakin menempa diri untuk jadi kuat:')
iyaa.. tapi yang kualami, sakit dan perihnya belum terasa, huehe..
amin.. amin.. XD makasih yee..

suararaa wrote on Oct 9, '08
adee04 said
Amiin...
biar gak ngeliat pernikahan sekedar indah2nya aja ya?
hmm..tapi mbak.. yg akhwat2 usia menjelang/sudah 30 ada mungkin yg belum menikah.. beliau-beliau juga perlu didoakan agar cepat dapt jodoh....
adee04 wrote on Oct 9, '08, edited on Oct 9, '08
@rakhma:
hmm..tapi mbak.. yg akhwat2 usia menjelang/sudah 30 ada mungkin yg belum menikah.. beliau-beliau juga perlu didoakan agar cepat dapt jodoh....

benar juga ya mbak
syukran untuk diingatkan
Moga Allah memberi mereka kesabaran, hingga tiba waktunya,
penantian mereka akan berujung pada indahnya saat-saat menggenapkan separuh agama
Amiin...
Hemm..seandainya para ikhwan juga dapat bersikap lebih gentleman dengan memilih para akhwat-akhwat ini dibandingkan sekedar memilih yang muda2 aja ya?
sekedar masukan untuk para ikhwan
8onetwo wrote on Oct 9, '08
aku percaya bhw setiap muslim semestinya tenang ketika menghadapi masalah seperti ini, seperti mereka semestinya tenang hatinya karena tahu bhw rizki yang sudah ditetapkan buat mereka ga akan diambil orang lain, huehehe..

wallahu a'lam.
Iya mbak. Tapi terkadang mengaplikasikannya susah. Mungkin karena hati masih penuh dengan ketidakikhlasan & silau akan hal-hal duniawi ya =(
TFS.
adee04 wrote on Oct 10, '08
8onetwo said
Mungkin karena hati masih penuh dengan ketidakikhlasan & silau akan hal-hal duniawi ya =(
iya.
manusiawi kan?
meski terkadang ingin juga punya keikhlasan lebih ya mbak
myhartono wrote on Nov 9, '08
aduh saya tlanjur baca nih..gmn dong !
tenang aja aku gak masuk kriteria seorang "ikhwan" kok aku hanya awam so gak bakal merasa kesindir he..he..
adee04 wrote on Nov 9, '08
aduh saya tlanjur baca nih..gmn dong !tenang aja aku gak masuk kriteria seorang "ikhwan" kok aku hanya awam so gak bakal merasa kesindir he..he..
kalau benar2 telanjur gak apa sih mas
tapi terlanjurnya sampai tamat ya?:D

kalau gak kesindir ya Alhamdulillah mas
kalau sempat kesindir ya mohon maaf...
genkeis wrote on Aug 6, '10
nice post :)
adee04 wrote on Aug 6, '10
genkeis said
nice post :)
lho mas?
kan ikhwan dilarang baca
Add a Comment
   

ade

"Kulihat dua jalan di hutan dan kupilih jalan yang dilalui sedikit orang Itulah, yang membuat segalanya berbeda" Robert Frost