Kenapa harus dengan ikhwan? Lelaki biasa saja sudah cukup! Kata seorang saudariku, setelah kami melalui sesi dialog yang cukup panjang.
Aku terdiam. Sungguh, sulit untuk menolak semua kata-katanya.
Kali ini kami berdiskusi tentang munakahat atau pernikahan. Jujur, dalam usia menjelang 20 tahun, entah mengapa topik ini sering sekali muncul. Mungkin karena banyak teman-teman seangkatan yang telah lebih dulu menggenapkan separuh dien. Atau sebab-sebab yang lain. Entahlah.
Dialog ini sebenarnya bukan tentang pernikahan. Awalnya kami hanya membahas dinamika dakwah kampus yang memang cenderung centang prenang, lalu berlanjut ke masalah ghirah dakwah yang cenderung menyurut,hingga ke ikhwan dan akhwat dengan ghirah keislaman yang tetap tinggi di tengah badai, lalu dan lalu, ketika dan ketika...
"Tapi ikhwan pun, juga manusia." celutuk saudariku ini. "Hmm?" "Iya, bahkan lebih dari manusia." Aku terdiam, menebak-nebak arah pembicaraan saudariku satu ini. Sepertinya ia pingin ngomongin tentang makhluk langka yang bicaranya suka nunduk-nunduk, berjenggot, dan selalu kelihatan jenggotnya di acara-acara dakwah alias ikhwan, nih. hmm...
Selanjutnya, ia mulai bercerita tentang pengalamannya dan situasi yang telah ia lihat di lembaga dakwah kampusnya di salah satu PTN yang paling ngetop di Indonesia. Tentang kecenderungan ikhwan-ikhwan yang masuk golongan garis keras, untuk selanjutnya menikah hanya dengan akhwat-akhwat yang the best.
"The best disini semuanya. Cantik, sholehah, pinter. Bahkan kadang fisik mendapat prioritas utama di atas semuanya." Tapi, bisik hatiku. Bukankah Rasulullah sendiri telah...?
"Memang," jawabnya cepat. Seolah bisa membaca pikiranku."Rasulullah mengisyaratkan kecenderungan laki-laki adalah pada 4 hal itu. Tapi, bukankah poin terakhir yang paling digaris bawahi oleh Rasulullah, yaitu agamanya?"
Lebih lanjut, ia mengatakan dengan nada keras. Bahwa para ikhwan itu, yang notebene pengetahuan agamanya (harusnya) lebih baik dari para 'laki-laki biasa' malah memilih calon istrinya berdasarkan kiteria fisik yang utama. Seolah-olah, diantara banyak akhwat yang tersedia, ikhwan itu menderetkannya dari yang tercantik hingga yang tidak, lalu memilih yang tercantik. bukan berdasarkan tingkat keshalehan dan ghirah keislamannya.
"Seolah-olah semua akhwat itu sama tingkatannya. Yang membuatnya lebih unggul hanya kecantikannya. Bahkan banyak akhwat yang hatinya terlanjur patah duluan saat mencintai seorang ikhwan, karena sadar bahwa ia tidaklah secantik bidadari."
Aku merenung saat mendengarnya. Memang banyak sekali sebelum ini, kudengar kisah tentang para akhwat-akhwat dengan semangat jihad yang tinggi, lalu menua dalam penantiannya menunggu jodoh karena fisiknya sedang-sedang saja. Sedangkan akhwat yang biasa-biasa saja dari segi pemahaman keislaman, semangat jihad, dsb, namun memiliki fisik ala putri salju, lebih mudah mendapatkan jodoh!
Masya Allah...
Aku mencoba berhusnudzon terhadap ikhwan-ikhwan itu. "Mungkin," kataku saat itu."Bukan maksud mereka mendewakan fisik di atas segalanya. Hanya sebuah kewajaran, jika seorang laki-laki (siapa saja) mendambakan istri cantik penyejuk mata. Apalagi seorang ikhwan, yang dengan aktivitas dakwahnya yang berat mendambakan seorang bidadari saat pulang ke rumahnya."
Saudariku ini terdiam. Tapi lantas ia meneruskan dengan sebuah kisah, tentang seorang cowok playboy yang keren, kaya, pintar dan terlihat memiliki segalanya dari dunia.
"Pada akhirnya, ia memilih menikahi seorang perempuan yang shalehah, yang sangat sederhana dan berwajah "biasa saja". Ia ingin seorang yang bisa membimbingnya lebih dekat dengan Allah, dan mendambakan sebuah rumah tangga yang dihiasi keikhlasan dan pembelajaran. Ia ingin istri yang bisa mendampinginya untuk belajar bersama tentang hidup dan kemuliaan."
Lagi-lagi aku terdiam. Ingatanku melayang pada sebuah buku yang pernah kubaca (afwan, lupa judulnya). Dalam salah satu paragraf, disinggung mengenai keberadaan akhwat-akhwat sepuh, yaitu para aktivis dakwah yang Allah belum memperkenankan jodoh untuk mereka hingga di usia senja. kesabaran mereka, husnudzan mereka terhadap para ikhwan...
"Seharusnya, para ikhwan bisa lebih dari para laki-laki biasa itu." Ucap saudariku memutus lamunanku.
Yah, tapi bukankah ikhwan juga laki-laki biasa? Mereka dapat khilaf, dapat sombong, dapat tersilaukan dengan dunia Mereka bukan malaikat...
Dan pada akhirnya, sebuah kesimpulan. Seperti yang telah diucapkan saudariku yang cantik di awal kisah ini.
Ah, aku merasa tidak pantas menjudge ikhwan-ikhwan itu. Sungguh! Aku sadar mereka juga manusia. Penuh khilaf. Dan lebih tidak pantas lagi untuk bersuudzahan pada mereka Mungkin mereka bukan menikah karena kecantikan, tapi Allah lah yang berkenan memberikan bidadari di dunia karena keikhlasan mereka dalam dakwah
Mungkin... Mungkin... Terlalu banyak mungkin...
"Ya Allah, jauhkanlah kami dari prasangka terhadap saudara kami..."  | boleh ngikut ngerumpi ya... mungkin saat kita berada di tingkat yang tidak biasa kita berharap yang tidak biasa juga... yah sama kaya kita aja, bukankah juah di lubuk hati kita ketika kita udah berusaha sebisa mungkin menjadi sesempurna mungkin kita juga berharap seseorang yang sempurna?(atau itu cm saya dan beberapa orang lain ya?) ini sama kaya hukum ekonomi dimana saat pendapatan kita tinggi pengeluaran akan cenderung tinggi juga artinya kita berharap banyak ketika kita berada di posisi yang KITA PIKIR TINGGI padahal apa yang menurut kita baik kan g mesti bener2 baik. yang aku jadi takut adalah GELAR ikhwan dan akhwat itu cuma biar dapet jodoh yang juga ga kalah kerennya... sedihnya lagi, abis dapet biadadari surga (sesuai hukum gossen ttg marginal utility) beberapa tahun kemudian akan bosen dan sesuai hukum alam saat si bidadari makin tua, mulai lupa d, mulai galak de...(jangan sampe y) jahat ya!(loh kok saya malah nulis blog yang isinya curhatan di sini...) numpang curhat d ya mba |
 | mungkin saat kita berada di tingkat yang tidak biasa kita berharap yang tidak biasa juga... yah sama kaya kita aja, bukankah juah di lubuk hati kita ketika kita udah berusaha sebisa mungkin menjadi sesempurna mungkin kita juga berharap seseorang yang sempurna?(atau itu cm saya dan beberapa orang lain ya?) ini sama kaya hukum ekonomi dimana saat pendapatan kita tinggi pengeluaran akan cenderung tinggi juga artinya kita berharap banyak ketika kita berada di posisi yang KITA PIKIR TINGGI padahal apa yang menurut kita baik kan g mesti bener2 baik. yang aku jadi takut adalah GELAR ikhwan dan akhwat itu cuma biar dapet jodoh yang juga ga kalah kerennya...  iya ya mbak, kalo merasa diri udah sempurna, tentu ada harapan mendapat kompensasi yang setimpal untuk kesempurnaan itu:)
hanya saja, saat manusia yang digelari ikhwan dan akhwat itu (ikhwan terutama) mulai berpikir secara 'biasa' bahkan terlalu biasa: soal fisik, maka orang pasti protes "ih, katanya harus ikhlas. katanya yang penting taqwa!" emang sih omongan orang gak penting, hanya saja mungkin kita harus jujur melihat ke dalam hati kita juga ya mbak sejauh mana udah keikhlasan kita agar jangan sampai gelar ikhwan dan akhwat itu jadi cap untuk dapat jodoh yang keren aja, kayak mbak bilang. Na'udzubillah kalo kayak gitu...
gak apa mbak, kalo mau curhat ini kan rumpi khusus cewek, jadinya aman deh;) |
 | Numpang nimbrung, ^_^ Setiap manusia tak dapat dinilai dari 'gelar' apapun yang mereka sandang. Ikhwan dan akhwat sama-sama hamba Allah. Kenapa seperti ada perbedaan yang tinggi sekali setiap membicarakan mereka dengan yang non ikhwan-akhwat? |
 | iya juga ya mba suka penasaran sama orang-orang yang juga bahkan lebih rajin ngaji dan jalalanin agama... tapi karena penampilan mereka ga di sebut ikhwan mungkin yang membedakan mang aplikasnya aja kaya STMJ (solat terus maksiat jalan)... |
 | kalau menurutku, perilaku ikhwan2 yang seperti itu (kalau memang ya) adalah sah-sah saja, mau pilih yang cantik atau yang ningrat atau yang kaya atau yang shalihah, pilihan mereka sah-sah saja..
seperti halnya salah satu komentar di post sebelumnya bhw sebaik-baik usia adalah yg panjang dan byk amalannya, tapi masa iya selalu bisa kondisinya seperti itu?
namanya juga sebaik-baiknya, hal yang bukan sebaik-baiknya kan belum tentu buruk atau tidak baik kan..
hm, menurutku.. seorang cewe (di sini pakai kata cewe bukan akhwat) yang mencintai seorang cowo (lagi-lagi aku ga pakai kata ikhwan) karena Allah, dia tidak akan pernah patah hati ketika cintanya tak berbalas..
dan meskipun salah seorang sahabatku pernah bilang bahwa seseorang bisa berjodoh dg lebih dari satu orang, aku percaya bhw setiap muslim semestinya tenang ketika menghadapi masalah seperti ini, seperti mereka semestinya tenang hatinya karena tahu bhw rizki yang sudah ditetapkan buat mereka ga akan diambil orang lain, huehehe..
wallahu a'lam. |
 | Aku merenung saat mendengarnya. Memang banyak sekali sebelum ini, kudengar kisah tentang para akhwat-akhwat dengan semangat jihad yang tinggi, lalu menua dalam penantiannya menunggu jodoh karena fisiknya sedang-sedang saja. Sedangkan akhwat yang biasa-biasa saja dari segi pemahaman keislaman, semangat jihad, dsb, namun memiliki fisik ala putri salju, lebih mudah mendapatkan jodoh! ============================================================ abang setuju dek... mungkin kita memang sudah ada jodohnya..tidak sekarang tapi diakhirat..tapi apa ada jaminan di akhirat ntar kita masuk syurga dengan segera..hmmm ini selalu membuat abang berpikir... |
 | yaaa menurut daku ya Piya.. semuanya mendapatkan kesempatan yang sama.. dan yang membedakan kita adalah taqwa dan kemampuan istiqamah.. tinggal bagaimana dia sebenarnya menepatkan diri dalam medan dakwah.. kadang2 kita lupa siapa sebenarnya medan dakwah kita..:) |
 | @ ade: sejujurnya, saat ini aku sedang mengagumi dan mencintai seorang pria.. dan saat ini juga sedang belajar supaya ga patah hati, karena sepertinya dia sudah punya calon istri yang bukan diriku.. :D |
 | adee04 wrote on Oct 7, '08, edited on Oct 7, '08 @dianprasweti: sejujurnya, saat ini aku sedang mengagumi dan mencintai seorang pria.. dan saat ini juga sedang belajar supaya ga patah hati, karena sepertinya dia sudah punya calon istri yang bukan diriku.. :D
moga Allah menguatkan mbak ya mungkin kalimat ini sedikit basi, tapi Allah memberikan yang terbaik menurutNya yang paling kita butuhkan bukan yang kita inginkan wah, daku jadi ingat pengalaman pribadi nih:) sakit, mungkin agak perih juga tapi gak apa, semakin menempa diri untuk jadi kuat:') |
 | adee04 wrote on Oct 7, '08, edited on Oct 7, '08 yaaa menurut daku ya Piya.. semuanya mendapatkan kesempatan yang sama.. dan yang membedakan kita adalah taqwa dan kemampuan istiqamah.. tinggal bagaimana dia sebenarnya menepatkan diri dalam medan dakwah.. kadang2 kita lupa siapa sebenarnya medan dakwah kita..:)  bang yudi, yang pertama, ini sebernarnya topik terlarang buat ikhwan! eh, abng gak kesinggung kan baca tulisan ini? maksudnya bukan menghakimi, hanya ingin berbagi
mengenai komentar abg, bingung "dia" yang abng maksud disini akhwat atau ikhwan?atau dua2nya? soalnya yang tulis komentar di atas kan ikhwan nih:) |
 | adee04 wrote on Oct 9, '08, edited on Oct 9, '08 @rakhma: hmm..tapi mbak.. yg akhwat2 usia menjelang/sudah 30 ada mungkin yg belum menikah.. beliau-beliau juga perlu didoakan agar cepat dapt jodoh....
benar juga ya mbak syukran untuk diingatkan Moga Allah memberi mereka kesabaran, hingga tiba waktunya, penantian mereka akan berujung pada indahnya saat-saat menggenapkan separuh agama Amiin... Hemm..seandainya para ikhwan juga dapat bersikap lebih gentleman dengan memilih para akhwat-akhwat ini dibandingkan sekedar memilih yang muda2 aja ya? sekedar masukan untuk para ikhwan |
 | aduh saya tlanjur baca nih..gmn dong ! tenang aja aku gak masuk kriteria seorang "ikhwan" kok aku hanya awam so gak bakal merasa kesindir he..he.. |
|
"Kulihat dua jalan di hutan
dan kupilih jalan yang dilalui sedikit orang
Itulah, yang membuat segalanya berbeda"
Robert Frost
|